Salome Dengan Nova

Salome Dengan Nova ~ IdewasaBlog ~ Ini adalah sebagian kisahku dengan 3 orang kawanku dulu. Kami selalu ngumpul bersama sebagai teman satu geng. Dan kami semua sangat suka dengan fantasi liar seksual. Awalnya kami cuma coba-coba melakukan eksperimen seksual. Karena berhasil akhirnya kami jadi ketagihan.


3 orang temanku adalah Mira, Jo dan Deni. Mira adalah satu2nya teman kami yang perempuan tapi dia mahir ilmu hipnotis. Awalnya cuma ide iseng untuk menghipnotis wanita cantik untuk kemudian kami garap secara seksual beramai-ramai dan kami bikin dokumentasinya. Sekedar untuk bersenang-senang. Sebelum akhirnya ini jadi kegiatan rutin kami.

Namaku Anton, umur 30 tahun. Aku dan 3 temanku sering melakukan kegiatan ini untuk senang-senang dan mengisi waktu luang. Mira biasanya jadi orang pertama yang mendekati korban. Maklumlah selain diajago hipnotis, dia juga perempuan. Jadi kalau dia PDKT, korban tidak curiga.

Malam itu seperti biasa kami lagi nongkrong di sebuah kafe sekalian liat-liat siapa tau ada korban untuk memuaskan hasrat seksual kami. Tak lama Jo melihat seorang gadis duduk sendirian di pojok kafe. Ia sibuk dengan blackberry nya.

“wah ada mangsa ni kayaknya” bisik Jo padaku.

Kami semua menoleh ke arah gadis itu. Penampakannya biasa saja. Memakai t shirt dan celana jins. Wajahnya berparas manis, dengan rambut sepundak. Usianya kutaksir sekitar 25 tahun. Tapi bodynya lumayan seksi dan berisi. Setelah rembukan kami sepakat untuk menunggu bebrapa saat lagi. Siapa tahu dia sedang menunggu temannya.

30 menit hampir berlalu, gadis itu masih duduk sendirian. Akhirnya kami sepakat bahwa inilah mangsa kami malam itu. Mira seperti biasa menjalankan aksinya. Ia nyamperin gadis itu, kenalan dan mengajaknya ngobrol ngalor ngidul, entah apa yang dibicarakan mereka tapi kini mereka tampak akrab ngobrol.

Tak lama, Mira mengirim aku BBM. “aman” katanya. Itu berarti kami harus segera cari kamar di hotel yang letaknya tak jauh dari kafe. Tepat di seberang kafe ini. kami pun bergegas. Aku, Jo dan Deni segera mengurus cekin di kamar hotel tersebut.

Komunikasi kami dengan Mira terus berjalan melalui BBM. Dari BBM Mira, kami ketahui gadis itu adalah karyawati bernama Nova, usia 27 tahun dan tidak sedang menunggu siapa-siapa. Dengan kemampuan hipnotisnya, Mira dengan mudah mengorek informasi soal Nova.

20 menit kemudian semuanya sudah siap. Dengan segala ilmu sirepnya akhirnya Mira berhasil membawa Nova ke hotel. Kami semua sudah siap di kamar. Pintu diketok dan masuklah Mira dan Nova. Dari penampakannya, Nova memang berwajah cantik. Senyumnya manis, kulitnya putih bersih. Aku tak sabar membayangkan apa yang ada dibalik kaos dan celana jinsnya. Dari luar saja bodynya sudah keliatan seksi.

Biasanya dalam mengerjai korban, kami menghipnotis korban untuk mau jadi model bintang iklan atau sinetron. Dengan dalih wawancara, korban kami buat tak sadar untuk menuruti semua kehendak kami melampiaskan nafsu seksual kami.

Nova yang cantik itu duduk di kursi samping kasur. Wawancara kami mulai. Kamera video aku arahkan padanya dan mulai merekam.

“udah punya pacar belum Nov?” tanyaku

“lagi nggak ada, dulu pernah punya tapi sekarang putus,” kayanya sambil senyum manis.

“wah secantik ini kok masih sendiri?”

Nova cuma tersenyum saja tak menjawab.

“sama pacarnya sudah pernah ngapain aja? pasti udah pernah ciuman dong?” tanyaku menggoda.

“iya pernah… kami rajin ML juga kok tiap bulan” jelasnya

“wah udah pengalaman dong ni?... posisi ML yang paling suka apa Nov?”

“mmmm…aku suka banget doggy dan dijilatin vag|na aku. Rasanya enak banget.” Nova bercerita tanpa canggung sedikitpun. Maklum saja ia sedang dibawah pengaruh hipnotis Mira.

Setelah sedikit sesi wawancara basa basi yang menggoda, Nova aku suruh duduk di ranjang. Tapi sebelumnya Jo menyuruhnya untuk melepas celana jinsnya. Nova pun menurut karena masih berada di bawah pengaruh hipnotis Mira.

Ia memelorotkan jins nya dan tampak pahanya yang mulus dan sekel itu. Ia memakai cd warna abu abu yang keliatannya juga sudah agak kendor kaena agak melorot posisinya. Belahan pantatnya sedikit keliatan. Membuat penisku mulai menegang keras.

Jo mengambil alih kamera. Aku yang akan kerjain Nova di ranjang. Sambil masih ngajak ngobrol, aku mulai meraba pahanya yang mulus itu.

“kamu cantik dan seksi sekali ya, mantan pacarmu pasti puas banget dulu ML sama kamu” kataku

“nggak mas dia justru lari ke perempuan lain yang katanya lebih seksi” kata Nova

“ah mana mungkin.. kamu juga seksi kok. Coba buka bh kamu” kataku.

Nova pun melepas kaosnya dan juga bh nya. Kini tampaklah payudara seksi ukuran 34c menggantung di dadanya. Aku tak buang kesempatan. aku segera remas remas sambil mengecup puting susunya yang mengacung runcing itu.
   
“tuh toket kamu aja seksi banget. Boleh ya aku cium cium lagi” godaku

Nova hanya mengangguk sambil tersenyum. Desahan nikmat segera keluar dari mulutnya saat aku mulai menjilati toketnya sambil sekali sekali menggigit kecil putingnya. Tanganku mulai turun ke pahanya dan mulai mengelus elus vaginanya yang masih tertutup cd.

“oooohhhh…yyeeeaaa..” Nova mendesah keenakan dengan pasrah.

Tanpa sadar, Nova kini mulai membuka kedua belah pahanya. Aku pun leluasa mengorek memeknya sambil menyusupkan tanganku dibalik cd nya. Kujelajahi memeknya yang tertutup jembut yang agak tebal. Memeknya sudah sedikit basah rupanya. Dengan permainan lidahku di sekitar puting susunya dan memainkan klitoris, vag|na Nova kurasakan semakin becek.

Tak kusia-siakan kesempatan ini. aku mulai masukan jariku ke dalam vaginanya. Ia mulai agak keras mendesah pantatnya mulai naik turun.

Cewek 27 tahun ini lumayan juga, nafsunya gede karena memeknya cepat sekali basah.

Tanpa sadar, Nova sekarang mulai merebahkan dirinya di kasur. Aku tarik cd nya dan sekarang Nova dalam keadaan bugil. Aku buka kedua kakinya lebar lebar. Memeknya terlihat masih rapet dan dikelilingi jembut hitam yang cukup lebat. Tak apalah, aku suka memek dengan jembut tebal.

Aku buka sedikit memeknya dan kujilati dengan ganas. Nova semakin kelojotan. Pantatnya semakin naik turun.

“ooooooohhh…sssshhhhh…aaaaaaaaaahhhhhhh” Nova meracau tak karuan.

Tanganku kini sambil meremas kedua toketnya. Nova kelojotan tak karuan, kepalanya menggeleng geleng ke samping. Tangannya kini menekan kepalaku ke memeknya. Aku terus menjilatinya dengan ganas. Klitorisnya aku mainkan dengan lidahku dan kusedot sambil kadang aku gigit.

Tak lama, tubuh Nova mengejang, pantatnya naik turun dan kedua pahanya mengapit kepalaku yang masih asyik menikmati vaginanya. Nampaknya Nova sudah orgasme duluan. Aku segera merubah posisi. Aku kini melepas semua pakaianku. Nova tampak bengong melihat kontolku yang sudah menegang keras dengan urat-urat dipinggirnya.

Aku menggesek-gesek kontolku pada bibir memeknya yang sudah basah membanjir. Zzllleebb.. kontolku masuk dengan mudah ke liang vaginanya. Sudah tak perawan tampaknya gadis ini. tapi dinding vaginanya masih terasa menekan dan memijat kontolku. Enak juga rasanya.

Aku memompanya pelan sambil kujilat toked Nova yang putingnya mengacung keras. Nova hanya pasrah dan semakin melebarkan kakinya yang mengangkang. Aku dengan leluasa menciumi lehernya, kupingnya dan mengulum bibirnya. Enak sekali rasanya memek cewek ini. aku memompa memeknya makin keras dan Nova semakin mendesah nikmat.

Nova melingkarkan kakinya di pinggulku dan aku semakin cepat mengocok memeknya. Tak lama kemudian spermaku keluar menyembur didalam liang vaginanya.

“wah kamu hot banget deh. memek kamu enak banget rasanya” bisikku dan Nova hanya terengah-engah sambil tersenyum.

Selanjutnya kami mulai dengan permainan yang lebih hot lagi. Jo sebagai cameramen mengarahkan adegan berikutnya.

“Nova, sekarang ada tes buat sinetron. Skenarionya kamu jadi korban perkosaan. Gimana, kamu bisa lakukan ini? ini penting buat casting kamu nanti” kata Jo

Nova hanya mengangguk setuju sambil terlentang bugil di kasur. 

Memeknya masih basah kena spermaku yang banyak dan kental tadi. Mira kemudian menghampiri Nova dengan pakaian kemeja dan rok mini.

“Nova, sekarang kamu pake baju ini ya. Ceritanya kamu karyawati yang diculik pas pulang kantor terus diperkosa sama 3 lelaki”

Nova kemudian mengenakan pakaian itu. Meski rambutnya masih acak acakan, tapi gadis ini tetap terlihat cantik dan manis. Kini ia mengenakan kemeja layaknya cewek kantoran dan rok hitam mini. Di dalamnya ia mengenakan cd nya lagi yang sudah kendor.

“belum pernah ngerasain 3some kan?” tanyaku

“belum tuh…” Nova senyum malu-malu, “kayak apa ya rasanya dikeroyok gitu?”

“Nah makanya tes adegan ini nanti kamu rasain aja sendiri. Nggak rugi deh. kamu pasti lulus kok asal pasrah aja nikmatin apapun yang kita lakuin dan suruh ke kamu,” jelasku. Ilmu hipnotis Mira memang manjur. Sampai saat ini Nova masih berada dalam pengaruh sirepnya.

Adegan dimulai. Mira mengarahkan Nova agar berakting sebagai korban penculikan untuk sedikit meronta ronta, ketakutan dan menangis. Mira kini mengambil alih kamera. Deni berpura-pura sebagai penculik Nova. Ia menutup mata Nova dengan kain, menodongkan pisau mainan dan menyeretnya ke kasur. Nova pun jatuh terlentang. Aku dan Jo masih berdiri di pojokan nunggu giliran adegan main.

“heh denger ya cewek sialan, sekarang lu mau gue perkosa,” akting Deni.

Nova pun pura pura menangis dan ketakutan. Deni segera menyerang Nova. Ia merebahkan tubuhnya diatas tubuh Nova dan langsung melumat bibir dan leher Nova. Gadis itu meronta ronta. Deni bertambah ganas sambil menarik kemeja Nova dan terlepaslah kancing kancingnya. Dalam sekejap, Nova sudah telanjang bulat. Deni kini melepas semua pakaiannya dan siap menggarap Nova.

Deni kemudian mengikat kedua tangan Nova di kedua ujung kasur. Nova kini terlentang tangannya terikat dengan tubuhnya yang bugil. Deni melebarkan kedua paha Nova dan langsung menghujamkan kontolnya. Aku dan Jo kemudian bergabung. Kami sudah telanjang bulat dan siap menggilir Nova habis-habisan.

Deni memasukkan kontolnya ke dalam memek Nova dan memompanya keluar masuk. Aku mengarahkan kontolku ke wajah Nova dan menyuruhnya menyepong kontolku sementara Jo mengulum toket Nova sambil meremas-remasnya.

Posisi ini kami lakukan bergantian dan bergantian pula kami menyemprotkan sperma di tubuh Nova yang terikat itu. Setelah itu, kami melepaskan ikatan tangan Nova dan istirahat sebentar. Mira kembali menghipnotis Nova agar kesadarannya tidak kembali dulu.

Dalam keadaan tak sadar, Nova kembali kami wawancara di depan kamera.

“gimana rasanya Nov? kayaknya kamu cocok nih buat casting sinetron”

“iya mas, rasanya enak kok” jawab Nova yang kelelahan sambil bugil. Dadanya masih belepotan sperma.

“coba kasih liat memek kamu. Kita pingin liat nih” kataku

Kamera kemudian menyorot memek Nova yang belepotan sperma. Karena dientot bergiliran, memeknya kini basah dan berwarna merah.

“iya nih… basah banget, abis kalian tadi crot di dalem si” katanya sambil senyum manis.

Setelah cukup istirahat, kami kembali membujuk Nova untuk ngesex lagi dengan alasan casting sinetron. Nova kini nungging dan kami menggilirnya lagi dengan gaya doggy.

Menjelang subuh, kami semua sudah puas. Nova teler berat karena habis kami gilir habis-habisan, ia terlelap kelelahan masih dalam keadaan telanjang bulat. Dan seperti korban-korban kami lainnya, kami tinggalkan dia bugil begitu saja.
CerDeOfficial Facebook Cerita Porno

Pembalasan Berbuah Nikmat

Pembalasan Berbuah Nikmat ~ IdewasaBlog ~ Aku duduk termenung di sebuah kursi panjang bandara. Aku diminta menemani bos Herman menjemput seseorang temannya. Herman berada di depan pintu, mondar-mandir seperti tak sabaran. Entah siapa yang akan kami jemput, Herman tak menceritakannya, sepertinya ini adalah orang penting baginya.


Tak lama menunggu pesawat pun akhirnya sampai, Herman semakin tidak sabaran, ia selalu memandang ke arah pintu. Aku pun mendekati Herman ketika para penumpang telah keluar dari pintu. "Nes!" teriak Herman ke arah rombongan penumpang yang keluar. Seorang perempuan kira-kira berumur 25tahunan berparas cantik datang mendekati Herman. Mereka langsung berpelukan, membuatku penasaran siapakah perempuan ini. "Man...", sapaan akrab bos Herman kepadaku, karena namaku Satorman. "Ini Agnes, teman SMP saya...", Herman memperkenalkan perempuan itu kepadaku. Baru ku ingat memang dulu Herman pernah cerita mengenai masa lalunya, nama perempuan itu adalah Agnes Monica, teman SMP yang pernah Herman perkosa bergiliran hanya karena sebuah pelampiasan kekecewaan. "Ini anaknya, Chelsea Olivia...", Herman juga menunjukkan anak perempuan yang dibawa Agnes, mungkin umurnya sekitar 7 tahunan. Mukanya mirip dengan ibunya, putih dan oriental.

"Biar saya bawa saja mbak...", aku menawarkan bantuan untuk membawakan tas Agnes. "Panggil Agnes saja...", balas Agnes sambil menyodorkan tas bawaannya. Kami pun segera menuju mobil. Herman dan Agnes terlihat akrab sekali, bahkan Herman menggendong Chelsea layaknya ayah menggendong anaknya. Dalam perjalanan mereka pun terus bercerita, ternyata sebelumnya Herman pergi ke Singapura bukan untuk liburan, melainkan untuk menemui Agnes. Dan ternyatanya lagi, sejak hadirnya Herman di sana, Agnes malah banyak mengalami masalah, ia harus bercerai dengan suaminya dan pulang ke Indonesia.

Aku ingat cerita Herman dahulu kala, Agnes pernah dijodohkan dengan seorang pria kaya, sehingga memicu api cemburu Herman. Dan semua itu membutakan Herman, ia bersama teman-temannya, kalau tidak salah bersama Tono, Eko, Budi, Marwan dan Iskandar, mereka semua mengeroyok pria yang akan dijodohkan dengan Agnes itu. Selain itu, mereka juga menculik Agnes lalu diperkosa secara bergiliran. Bukan hanya itu, hanya karena perjodohan, watak Herman menjadi rusak, menjadi perokok dan peminum. Yang ujung-ujungnya, Agnes harus meninggalkan Indonesia untuk melupakan masa kelamnya.

Aku terkejut karena tiba-tiba mobil yang aku kendarai oleng. Apalagi sedari tadi aku memikirkan kisah Herman yang membuatku tidak begitu konsen di jalan. "Ada apa man?", tanya bos Herman yang duduk di belakang bersama Agnes dan Chelsea. "Ga tau bos, kayaknya kempes...", aku pun menepikan mobil.

"Sial, ban bocor bos kena paku...", aku menyampaikannya kepada Herman, ia pun keluar untuk melihat. "Waduh, mana jalanan sini sepi...", kata Herman. "Biar gue telpon yang lain untuk jemput saja bos...", saranku. Tapi belum sempat mengambil hp di saku celanaku, sebuah mobil box menghampiri kami. Dua orang keluar dari mobil box itu sambil membawa senjata api. "Ayo ikut!!", perintah mereka sambil mengarahkan senjata api mereka. Yang satunya pun membuka pintu mobil dan menyeret Agnes dan Chelsea keluar dari mobil. Mungkin paku yang menusuk ban juga adalah ulah mereka yang sudah terencana.

"Mau apa kalian?!", teriak Herman mencoba melawan. 'BUKK' pukulan keras ke pipi Herman dengan menggunakan gagang senjata api. Aku tidak berani melawan selain tubuh dua orang itu yang besar berotot dan membawa senjata api, aku juga khawatir keselamatan Herman, Agnes dan Chelsea. Kami pun dipaksa naik ke dalam box, bau sekali dan pengap, walaupun box isinya kosong, tapi sepertinya sering digunakan untuk mengantar entah barang apa.

Pintu box pun ditutup. Herman mencoba menenangkan Agnes dan Chelsea yang mulai ketakutan dan menangis. "Hp tertinggal di tas...", kata Agnes yang ingin menghubungi bantuan. Untung saja hp ku selalu taruh di saku celana. "Biar gue telpon yang lain...", kataku. Keadaan box sangat gelap, nyala hp menjadi satu-satunya penerangan di sini. "Ton, kami diculik... Ga tau mau dibawa ke mana... Mobil box warna kuning...", belum selesai berbicara dengan Tono melalui hp, tiba-tiba sambungan terputus. "Damn! Pulsa habis...", aku kesal sambil membanting hp. Herman pun sudah mulai gelisa. Ia mendekati pintu box, memukul-mukul dan berteriak.

Percuma saja yang dilakukan Herman, mobil box malah bergoyang-goyang kuat, sepertinya sopir itu membawanya dengan kecepatan tinggi. Aku dan Herman pun kemudian menyusun rencana, untuk melawan ketika pintu box di buka. Agnes dan Chelsea juga disuruh bersiap-siap agar bisa segera kabur bila kami berhasil melumpuhkan dua pria besar itu.

Mobil box pun terasa melambat, sepertinya sudah mendekati tujuan, padahal sudah hampir sejam-an kami menunggu. Saat pintu dibuka, astaga, sangat terkejut sejali dengab sambutan dibalik pintu box. Kaki ku serasa kaku tak mampu bergerak melihat belasan orang berbadan kekar mengarahkan senjata api dari luar sana sehingga tak mungkin bagi kami untuk melawan. Agnes dan Chelsea pun kemudian menangis dengan kencang melihat keadaan seperti ini.

Entah siapa mereka dan apa tujuan mereka menculik kami. Kami pun kemudian diseret keluar dari box dan dibawa ke sebuah ruangan yang gelap dan penuh dengan kotak-kotak kayu. Kami semua diikat secara terpisah. Kemudian orang-orang berbadan besar itu pun keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Aku lihat Herman juga tidak berkutik, kami diikat dengan kuat di tiang-tiang dekat dinding.

"TOOLLLOOOONNNNGGGGGG........", teriak Agnes mencoba mencari bantuan, siapa tahu ada yang mendengarnya. Namun sepertinya usaha Agnes percuma saja, ruangan ini tertutup sangat rapat, sehingga menjadi kedap suara. Chelsea malah menangis hingga pingsan. Agnes melihat keadaan adaknya menjadi terdiam dan kemudian kembali menangis.

Tak lama dari itu pintu terbuka, sebuah sosok pria masuk ke dalam ruangan, kucoba liat dengan jelas, tapi aku tidak mengenalinya. "Aleexxx......", seru Herman terkejut melihat sosok pria itu. "Apa mau mu Lex?!", sambung teriakan Agnes. "Hahahaha, akhirnya kita reunian juga ya... Sudah bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini...", kata Alex. Ia berjalan mendekati Herman, ku lihat sebenarnya wajah Alex ganteng sekalu, kulit putih oriental pun menambah nilai plus, hanya disayangkan ada goresan di pipinya seperti di film kartun samurai x. "Ingat dengan goresan ini?...", tanya Alex kepada Herman sambil menunjukkan goresan di pipinya itu. Belum sempat menjawab, Herman langsung ditinju di perutnya, "Arghhh....".

Alex kemudian membuka pakaiannya, seluruh tubuhnya penuh goresan, apa ini juga akibat dari perbuatan Herman? Sungguh kejam sekali masa lalu Herman. "Lihat! Semua yang terbekas olehmu!!!" teriak Alex yang kemudian langsung menendang Herman. Ia membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. "Gara-gara kalian, aku menghabiskan hidupku di lembah kelam... Bergaul dengan penjahat agar suatu hari datang kesempatan seperti ini...". Aku sangat terkejut, padahal ceritanya dulu Alex adalah orang yang berpendidikan, hanya karena perbuatan tidak menyenangkan, telah membuatnya berubah 180 derajat. Kulihat Herman meneteskan air mata, sepertinya ia sangat menyesali perbuatannya.

"Maafin aku Lex...", Herman meminta maaf pada Alex. "Hahaha, maaf?"... 'BUKK' sekali lagi Herman mendapatkan tinjuan namun kali ini mengarah ke wajahnya. "Kau pikir maaf itu bisa memperbaiki semua? Mengembalikan masa laluku? Mengembalikan keadaan tubuhku? Hahahah...", Alex lalu tertawa terbahak-bahak. Darah terlihat menetes keluar dari mulut Herman. "Kau boleh balas aku, tapi tolong lepasin mereka...", pinta Herman. "Hahaha, aku sudah terlanjur begini... Kenapa harus berbaik hati?...", jawab Alex.
Alex kemudian mendekati Agnes, "Hallo, mantan calon istriku...", sambil memegang dagu Agnes. "Tolong lepasin kami Lex...", Agnes memohon sambil meneteskan air mata. "Hahaha, semudah itu kah memohon padaku?", balas Alex dengan raut wajah sedikit kesal. "LEX!!! Gue bakal kasih lu duit berapa pun yang lu mau!" teriak Herman mencoba menawar. "Hey, gue gak perlu duit lu, BEGO!", jawab Alex ketus. "Lepasin kami Lex...", Agnes kembali memohon. Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tidak tahu harus berbuat apa, ini permasalahan antara mereka, tapi seharusnya aku membantu Herman, namun dengan kondisi terikat begini, sama juga sia-sia kalau aku berontak. Apalagi aku tahu perasaan Alex bagaimana, tubuhnya yang telah ditorehkan bekas-bekas yang tidak akan hilang untuk selamanya itu, tentunya akan diingatnya hingga akhir hayat.

Muka Alex mendekati muka Agnes, ia terlihat menciumi aroma wajah Agnes yang harum. Tubuhnya yang sudah bugil menunjukkan penisnya yang mengeras. "Hmm, harum sekali kamu Nes... Jadi ingin ku kentot...", dengan senyum yang bringas kemudian Alex berusaha menciumi Agnes. "BAJINGAN KAU LEX!!!" teriak Herman sekuat tenaga, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Alex. Ia terus menciumi kening, pipi, leher, dan bibir Agnes yang tak bisa berontak karena terikat.

Herman terus berteriak mencaci maki Alex, tapi Alex malah semakin brutal menciumi Agnes, ia pun memberikan cupangan di leher Agnes hingga memerah. "Aku akan bunuh anakmu kalau kamu tidak melayaniku!", ancam Alex kepada Agnes sambil melihat ke arah Chelsea Olivia yang tengah tertidur. Agnes hanya menangis tak bisa menjawab, Herman pun kemudian kembali memohon, "Lex, ini salah gue, bukan salah mereka... Lu boleh siksa gue, tapi jangan kepada mereka...". Aku melihat Herman meneteskan air mata, ia pasti sangat menyesal sekali dengan perbuatannya yang dulu.

Alex tak menghiraukan Herman, baginya inilah hukuman yang pantas Herman dapatkan, melihat Agnes disakiti tentunya merupakan pukulan berat bagi Herman. Melihat kondisi ini, penisku pun mengeras, aku yakin Alex sudah pasti ingin menikmati Agnes. Alex kemudian melepaskan ikatan Agnes, "Ingat, nyama mereka semua ada ditanganku...", Alex kembali mengancam. Agnes terlihat pasrah, ia menangis dan gemetaran, tanpa perlawanan kemudian pakaiannya pun dilucuti Alex hingga lepas semua.

Sungguh indah tubuh Agnes walaupun dadanya tidak begitu besar dan postur tubuhnya tidak begitu tinggi, tapi lekukan tubuhnya yang langsing dan seksi dibarengi kulit yang putih mulus terlihat sungguh indah. Tidak heran, Agnes diperebutkan seperti ini, bahkan aku sendiri hampir tidak bisa menahan, penisku sudah tidak tahan, aku terus menelan ludah melihat indahnya tubuh seksi Agnes.

"LEPASIN AGNES LEX!!!" Herman terus berteriak, "BAJINGAN!" semua teriakan Herman tidak digubris Alex. Agnes gemetaran lalu dipeluk Alex, "Tenang saja Nes, nanti juga lu senang... Lagian kalau dulu si 'anjing' tidak memisahkan kita, mungkin kita sudah menjadi suami istri yang berbahagia...", Alex mencoba menenangkan Agnes. 'Anjing'? Apa maksud dia adalah Herman? Berarti Alex benar-benar sudah dendam sekali dengan Herman. Alex lalu kembali berciuman dengan Agnes sambil memeluk erat dirinya. "Layani aku sebentar saja Nes, mereka akan baik-baik saja...", kembali Alex mengingatkan posisi kami semua. Tanpa perlawanan Agnes pun diciumi tanpa berhenti.

Herman masih terus berteriak, namun suaranya sudah sedikit serak. Sedangkan Alex sudah menciumi hingga ke bagian dada Agnes. Dadanya yang tidak begitu besar namun putih itu terus diciumi dan diremas-remas oleh Alex. Lalu ia pun sudah memulai menyedot puting susu Agnes, memilin-milinnya hingga Agnes terlihat kegelian. Aku sedikit malu melihat aksi Alex, karena aku seharusnya tidak melihat adegan ini untuk menghormati bosku, Herman, namun pemandangan langka ini tidak boleh ku lewatkan. Terus menelan ludah menahan penisku yang mengeras, kulihat Herman sudah tak bersuara, ia mulai lelah akibat teriakannya.

Puas menikmati susu Agnes, Alex pun kemudian meminta Agnes berjongkok, sudah tahu apa niat Alex, ia mengarahkan penisnya ke muka Agnes, ia bermaksud menyuruh Agnes menyepong penisnya. Awalnya Agnes terlihat ragu, ia hanya memainkan penis Alex dengan tangannya. Alex menjambak rambut Agnes agar Agnes tidak ragu menyepongnya. Adegan selanjutnya Agnes sudah terlihat terbiasa menyepong penis Herman, bahkan kulihat gaya Agnes sudah sangat profesional, tidak heran karena pengalamannya yang sudah menjadi seorang istri. "Man, lihat ini... Hahahaha...", Alex tertawa terbahak-bahak, ia senang mengolok Herman. Ku lihat Herman tidak mampu bersuara, ia ngos-ngosan kecapekan.

Beberapa lama setelah itu, Alex sudah ingin ke tahap selanjutnya. Ia menarik rambut Agnes agar mengikutinya. Agnes diseret hingga ke depan, lantai yang hanya beralas kardus-kardus bekas. Alex kemudian berbaring terlentang, Agnes ditarik agar menjongkok. Alex meminta Agnes melayaninya dengan gaya WOT. Adegan yang aku tunggu-tunggu telah tiba, ku lihat Herman tidak mau melihat lagi, ia menundukkan kepalanya untuk tidak melihat perlakuan Alex terhadap Agnes, Herman sudah sadar usaha berteriaknya hanya sia-sia, sedangkan Chelsea masih tertidur pulas.

"Oh... Andai kau jadi milikku Nes...", desah Alex menikmati penisnya dikocok vagina Agnes. Alex meremas dada Agnes sambil berbaring, Agnes hanya menaik turunkan tubuhnya dengan mata yang tertutup, entah apa yang ia rasakan, kulihat antara sedih tapi menikmati. "Tapi semua sudah telat Nes... Hidupku sudah berubah...", kata Alex.

Beberapa puluh menit kemudian terlihat Agnes sudah sedikit lelah, Alex kemudian coba bangkit memeluk Agnes dan menekannya ke bawah hingga Agnes terlentang, sekarang gantian Alex yang berada di atas. Sambil menggenjot vagina Agnes, Alex kemudian mengulum susu Agnes. Dari sini terdengar jelas desahan Agnes yang merintih keenakan. Walaupun matanya tertutup karena malu diperlakukan begini, namun aku yakin dia telah menikmati sensasi seks ini. Badannya terus bergoyang mengikuti irama sodokan penis Alex di vaginanya. Permainan mereka pun berlangsung cukup lama, hingga Alex mencapai ejakulasi, ia membiarkan penisnya menyemprotkan sperma di dalam vagina Agnes. Agnes berusaha mendorong tubuh Alex, "Jangan Lex...", Agnes memohon sampai menangis, namun Alex memelukknya dengan erat sampai beberapa menit hingga penisnya mulai mengecil dalam vagina Agnes. Agnes pun menangis lebih keras, sperma Alex sudah memenuhi liang vaginanya. "Thanks Nes...", kata Alex lalu menarik keluar penisnya, ia tersenyum gembira, ini adalah kemenangannya. Herman tidak berkutik dipermalukan seperti ini.

Alex kemudian bangkit dan menjauhi Agnes, ia pun keluar dari ruangan ini. Agnes masih terbaring lemah sambil menangis. Aku tahu Agnes sudah menderita dan Herman juga sudah frustasi dengan keadaan ini, akhirnya aku buka mulut, "Nes, ayo bangkit Nes... Lepasin kita...", aku berteriak pelan agar Alex tidak mendengarnya, "Kita harus kabur dari tempat ini...", aku berharap Agnes bisa bangkit dan dan melepaskan ikatan kami.

Mendengar masukanku, Agnes kemudian coba berdiri, walaupun badannya lelah tapi ia terus berusaha, ia pun berdiri dan menghampiri kami, dengan berjalan terhuyung-huyung ia menuju ke arah Chelsea. Itulah yang memotivasinya untuk keluar dari tempat ini, dengan air mata yang masih menetes, ia melepaskan ikatan Chelsea. Anaknya itu masih terlelap, sehingga Agnes membiarkannya sejenak berbaring di dekat sana, lalu ia menghampiri Herman untuk melepaskan ikatan Herman. Herman terlihat masih menundukkan kepala, ia menyesal telah menyeret Agnes ke dunia yang begitu kejamnya.

Selesai melelaskan ikatan Herman, ia lalu mendekatiku untuk melepaskan ikatanku. Tubuhnya kulihat dari jarak dekat membuat penisku terus mengeras ingin melampiaskan gejolak. Dadanya putih sekali, ingin rasanya aku lumat. 'BRAKKK' suara keras tiba-tiba membuyarkan imajinasiku. Agnes pun berhenti melepaskan ikatanku, matanya lalu tertuju ke arah pintu. Gila, belasan pria berbadan besar tadi memasuki ruangan ini. "Ayo Nes, lepasin aku...", pintaku. Namun sebelum Agnes berhasil melepaskan ikatanku, seorang pria hitam besar berlari lalu menjambak rambut Agnes, lalu ia menariknya ke arah mereka. Semua kemudian mengerumuni Agnes, melihat demikian Herman lalu berlari ke arah mereka berusaha menyelamatkan Agnes. Namun apa daya, selain kalah postur tubuh, Herman juga kalah jumlah. Ia dipukuli pria-pria besar itu, ditendang hingga Herman tersungkur dan tak sadarkan diri. Sungguh malang sekali nasib mereka, karena sebentar lagi Agnes diharuskan melayani pria-pria besar itu. Satu, dua, tiga... delapan belas, iya tidak salah hitunganku, mereka berjumlah delapan belas orang.

Mereka lalu melepaskan pakaian mereka masing-masing. Mereka terlihat sangat bringas, Agnes ditampar dan digerayangi. Tak mau menunggu lama, mereka pun bergiliran menikmati Agnes yang tak berdaya. Satu pria dengan penisnya yang besar langsung menusukkan ke arah vagina Agnes, yang lain hanya meremas susu Agnes, satunya lagi menancapkan penisnya ke mulut Agnes yang mungil. Agnes menangis ketakutan, "Hiks hiks hiks...". Berjam-jam mereka tidak berhenti menikamti Agnes, secara non-stop bergiliran menggenjot vagina Agnes. Mereka pun tidak segan berlaku brutal, rambut Agnes dijambak, payudaranya ditampar, bahkan vaginanya ditusuk tanpa henti bukan hanya dengan penis mereka melainkan tongkat baseball yang mereka bawa sebagai senjata.

"Perek ini bening sekali ya...", kata mereka. "Bagus habis ini kita jual saja...", sambung yang lain. "Iya, pasti laku nih...", lanjut yang lainnya. "Oh ya, lihat tuh anak perempuannya sudah bangun...", kata yang lain melihat Chelsea sedikit bergerak karena terbangun. Apa yang akan terjadi dengan Chelsea? Apalagi kalau ia melihat kondisi ibunya seperti itu. "Hey, lu kan doyan anak-anak...", olok salah satu pria ke pada satu pria lainnya. Pria itu terlihat mempunyai kelaianan, ia kemudian bangkit dan mendekati Chelsea. "Jangaannnnn........", Agnes mencoba memohon, ia terlihat tak mampu lagi ber teriak.

Pria besar yang mendekati Chelsea itu lalu menarik Chelsea, anak itu kaget lalu menangis, "Mamaaaa....", teriaknya. Kasihan sekali, anak perempuan yang masih kecil itu sebentar lagi akan dinodai. Herman masih pingsan, dan aku terikat erat di sini tak mungkin menolong, namun walaupun aku tidak terikat, aku juga tak mungkin mampu menolong. Yang aku lakukan hanya bisa coba memohon, "Hei, dia masih anak-anak... Teganya kalian... Coba kalian bayangkan kalau itu terjadi pada anak kalian?!...", aku coba menyadarkan mereka. Namun pria itu tidak menggubris, ia menangkap Chelsea lalu menarik koyak baju Chelsea.

Pria yang mengerumuni Agnes malah marah padaku, "Hey, bisa diam ga lu?! Atau mau gue bunuh?!", ancamnya membuatku langsung terdiam. "Jadi orang gak usah munafik!", sambung satu temannya. Kemudian salah satu dari mereka mendekatiku dan meremas kelaminku, "Wah, otongnya keras, dia konak broooo....", teriaknya kepada kawan-kawannya. "Hahaha, gak usah munafik, nih kita kasih jatah...", sambut kawannya langsung menyeret Agnes ke arah ku. Pria yang tadi meremas penisku langsung membuka resleting celanaku, ia menarik keluar penisku, "Ayo kulum...", mereka meminta Agnes mengulum penisku. Entah apa yang kurasakan lagi, semua gelora berkecamuk dipikiranku, ku alihkan pandangan ke arah Chelsea, ternyata anak perempuan itu masih menangis dengan kondisi tubuhnya yang sudah bugil tanpa satu helai pakaianpun, dada nya rata, ia hanya anak berumur sekitar tujuh tahunan, sunggub bajingan mereka.

Tak bisa berpikir lebih lanjut, tiba-tiba penisku terasa hangat, Agnes dengan terpaksa mengulum penisku dengan posisi di-'doggie' oleh pria berbadan besar penuh tatto, pria lain memegabgi Agnes agar ia tidak lelah dengan posisinya, yang lain sambil meremas-remas susu Agnes. Sedangkan satu pria keluar dan kemudian kembali dengan membawa seember air penuh, "Gue mau liat reaksi pria ini...", ia lalu menguyurkan air itu ke arah Herman, membuat Herman tersadar dari pingsannya.

Pria itu menarik bangkit Herman, "Liat jing! Wanita yang lu cintai... Sedang melayani kami, bahkan melayani temanmu sendiri...", ia memaksa Herman memandang ke arah kami. Aku sangat tidak enak, aku menggelengkan kepala, entah apalagi yang dirasakan Herman kemudian. Ia menangis tanpa mau melawan, pria itu lalu mendorongnya jatuh. Namun ketika Herman memandang ke arah Chelsea yang sedang dipeluk satu pria, Herman terlihat marah, ia bangkit dan mau melawan, kemudian ia tetap dilumpuhkan dengan tendangan pria yang tadi menyiramnya. "Lu nonton aja!!", kata pria itu masih menendang Herman agar Herman tidak melawan.

Aku telah merasakan nikmat duniawi, penisku benar-benar nyaman diemut oleh Agnes. Sungguh hangat penisku berada di dalam mulutnya, Agnes hanya menangis dan mengikuti perintah. Dengan gaya doggie, Agnes terus menyepong penisku tanpa henti, sedangkan pria-pria yang men-doggie nya sudah silih berganti. Dan sebentar lagi aku juga akan mencapai tahap ejakulasi, kurasakan nikmat mencapai ujung penis, akhirnya aku pun menyemprotkan sperma ke dalam mulut Agnes.

"Bajii... nggaannnnn....", Herman tak mampu melawan, ia hanya bisa terus tersungkur karena dipukuli pria tadi. Kami hanya bisa melihat adegan ini tanpa perlawanan. Yang paling menyedihkan adalah nasib Chelsea, ia sudah terlihat pingsan karena tak mampu menahan rasa sakit ketika vaginanya ditembus penis jumbo pria berkelainan seks itu. Pria tersebut terus mengenjot anak Agnes yang masih kecil. Chelsea memang terlihat cantik, kalau sudah besar pasti akan menjadi pujaan lelaki, tapi sangat disayang hidupnya telah hancur seperti ini. Rambutnya yang panjang dan hitam terus dibelai pria itu, bibirnya yang mungil dilumat, lalu juga ke arah susunya yang rata, kulitnya putih sehingga bekas cupangan sangat terlihat jelas.

Sedangkan nasib Agnes masih belum berubah, walaupun ia sudah selesai menyepong penisku, kini ia diharuskan menyepong penis milik pria lainnya. Entah sudah berapa pria yang telah menggilirnya, tapi permainan ini sama sekali belum berakhir, apa mereka akan menawan kami sampai waktu yang cukup lama? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa kami akan dibunuh? Aku tak mampu memikirkannya lagi, sekarang aku hanya menyaksikan adegan 'live' yang sangat seru.

Kini kulihat Agnes berada di atas salah satu pria yang berbaring dilantai, pria itu kemudian memeluknya dengan cukup erat sehingga pantatnya sedikit nungging. Dengan vagina yang masih tertancap penis, salah satu pria mendekati Agnes dan ingin melakukan aksi anal. Tak mau lama-lama, pria itu dengan cepat dan kasar menusukkan penisnya ke lubang anus Agnes. "Argggghhhhhhh!!!!....", teriak Agnes. Kini lubang vagina dan anusnya telah tertancap penis, giliran mulutnya yang akan disumpal penis pria lainnya. Aku tidak tega melihat Agnes mengejang kesakitan seperti itu, tubuhnya mungil tampak terlihat seperti sedang berada dalam genggaman para monster.

Lama sekali mereka menggenjot Agnes, lalu kualihkan pandangan ke arah Chelsea, ia masih terus digenjot pria tadi. 'Apa enaknya?' pikirku dalam hati, kok pria itu sangat menikmati, menggenjot tubuh seorang anak kecil dan melumat susu yang rata. Sungguh bajingan yang berotak gila, sifatnya tak jauh dari sifat temanku, Tono, yang mempunyai kelainan seks juga.

'BUKKK!' suara tendangan yang sangat keras mengarah ke perut Herman. Ternyata Herman masih mencoba bangkit untuk menyelamatkan Chelsea. "Lu ini gak tau diuntung ya?! Syukur-syukur kalian gak kami bunuh...", kata pria yang menendang Herman itu. "Hahaha, apa dia juga mau nyicip anak ini?", gurau pria yang sedang menggenjot Chelsea. "Tenang saja, tar kalo gue dah puas, lu bole nikmatin juga kok...", sambungnya yang semakin membuat Herman marah. Masih beberapa pukulan dan tendangan mengenai Herman, mulutnya sudah mengeluarkan darah, matanya pun bengkak sebelah.

Agnes sudah mulai tidak sadarkan diri, sekarang hanya satu pria yang memperkosanya, sedangkan pria lain sudah puas mendapatkan giliran. Tubuh Agnes penuh dengan cupangan, wajahnya belepotan dengan sperma, bahkan masih ada beberapa tetes yang mengalir keluar dari mulutnya. Setelah berhasil berejakulasi di dalam vagina Agnes, pria itu pun kemudian mencabut penisnya, terlihat jelas sperma menetes keluar dari lubang vagina Agnes. Kemudian pria itu membopong tubuh Agnes dan dilemparkan ke arah Herman. "Nes...", seru Herman ketika tubuh Agnes didekatnya, Herman lalu memeluknya dan coba membuatnya terjaga.

"Woi! Gue bukan suruh lu pelukin dia!", kata satu pria, lalu pria lain pun menyambung, "Kami mau liat lu ngentot sama tuh perek!". Herman lalu melotot ke arah mereka, seakan tidak percaya betapa malang nasib Agnes. "Napa? Mau lawan? Atau biar kami telpon kawan kami yang lainnya lagi biar lebih rame lagi ngentotin tuh perek?", ancam satu pria.

Herman lalu memucat wajahnya, pelan-pelan akhirnya ia membuka bajunya. "Kalau gak mau, tar kita kentot tuh anak juga...", tambahnya mengancam. "Bole bro, gue dah selesai ne...", kata pria yang memperkosa Chelsea. Tubuh Chelsea yang lunglai ditinggalkan begitu saja dengan vagina yang berdarah karena koyak ditembus penis besar, sekitarnya terlihat cairan sperma yang tertinggal. Herman tak berkutik, ia hanya bisa menuruti kemauan pria-pria itu, Herman mulai menggenjot Agnes yang sedang pingsan. Sinar cahaya air mata terlihat dari wajah Herman, ia terus menangis sambil menyetubuhi Agnes. Malang sekali, pria-pria jahanam itu malah bersorak-sorai, mereka pun kembali mengenakan pakaian mereka sambil mengawasi tingkah laku kami.

Akhirnya ku lihat Herman mengejang, ia sudah berejakulasi dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Agnes. "Hebat! Lu ternyata juga doyan ma perek ini... Hari ini kami jual gratis, lain kali mesti bayar loh...", ejek pria bertubuh gede itu. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku. "Hei, lu mau ga? Gratis loh...", seru pria itu ke arah ku, aku pun langsung diam dan berpura-pura tertidur. "Biarin aja bro, anggap aja dia lagi ga mujur, hahahaha...", olok kawannya mengira aku sudah tertidur. Aku hanya pura-pura tertidur, namun aku masih jelas mengetahui aktivitas mereka. Mereka terus berbicara sambil merokok, mengawasi kami dengan cermat.

"Yuk cabut...", aku mendengar ada pria yang berkata demikian, aku tidak berani mengangkat kepalaku, ku biarkan hingga ku dengar pintu terbuka dan tertutup kembali. Saat ku angkat kepalaku, ruangan sudah tidak ada mereka, sebelah kiri hanya ada Chelsea yang tertidur pulas, sedangkan depanku ada Herman yang juga tertidur memeluki Agnes. Kondisiku yang cukup baik, walaupun terikat tapi setidaknya aku tidak disiksa mereka, malah mendapat sedikit kenang-kenangan, dengan kondisi terikat, penisku masih bergelantungan di luar celana yang resletingnya terbuka.

Menunggu cukup lama, akhirnya aku pun tertidur. Dan suara gaduh kemudian membangunkanku, dengan mata sayup-sayup ku coba melihat keadaan sekitar. Sedikit lega, aku melihat ruangan ini ramai dengan polisi, mereka lalu mengevakuasi Herman, Agnes dan Chelsea. Kemudian salah satu polisi mendekatiku dan melepaskan ikatanku. Beberapa polisi terlihat menggeledah kotak-kotak yang ada di ruangan, ternyata isinya adalah botol-botol bir, dan beberapa memasang garis polisi. Kami pun dibawa ke mobil mereka dan meminta kami menjelaskan apa yang terjadi di kantor polisi.

Aku masih sedikit pusing, tapi sesampai di kantor polisi, ku lihat Herman dengan lancar menceritakan apa yang terjadi, walaupun wajahnya masih bengkak di mana-mana. "Pokoknya Alex harus ditangkap! Berapapun akan aku bayar!", Herman menegaskan. Sedangkan Agnes dan Chelsea dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Aku pun dimintai beberapa kesaksian, dan aku menceritakan semuanya yang terjadi.
CerDeOfficial Facebook Cerita Dewasa

Ibu Sinta Dosen Ku Idola Ku

Ibu Sinta Dosen Ku Idola Ku ~ IdewasaBlog ~ Cerita Dewasa Seks ini terjadi saat aku waktu masih kuliah. Cerita Sex yang coba ingin aku bagi kepada kawan-kawan semua adalah pengalaman cerita dewasa dan cerita sex ku dengan dosen kuliahku. Ia mengajar mata kuliah bahasa inggris. Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.


Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan dosen bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

“Kenapa Jack”

“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).

“Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta.

“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.

“Terima kasih Jack”.

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh…”

Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. “Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?”, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..” Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?”, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. “Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!” Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. “Gaya apa lagi ini?”, tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

“Capek?”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku”.

“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..”

“Oughh.., Jack.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.

“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack”

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
CerDeOfficial Facebook Cerita Dewasa, Cerita Porno

Nikmatnya Di Kulum Kakak | Cerita Seru Dewasa

Nikmatnya Di Kulum Kakak | Cerita Seru Dewasa ~ Kali ini kembali lagi saya akan memberikan cerita dewasa yang pastinya seru dan memukau. Bagi yang belum pernah menyimak cerita ini bisa langsung dilihat di bawah ini spesial buat anda para pecinta cerita dewasa yang super hot. Langsung saja simak ceritanya berikut ini:


Ketika itu Aku masih kelas 2 SMP, dan dirumahku ada 2 saudaraku dari Bapak Aku yang tinggal di rumahku karena melanjutkan sekolah di SMA. Dua mbak aku ini udah kelihatan besar dan dewasa sedangkan Aku waktu itu masih culun dan kecil karena emang masih kelas 2 SMP. Waktu itu aku lalui kehidupanku dengan menyenangkan dan bahagia karena banyak hal yang kami lakukan sepulang sekolah karena banyak saudara atau temen yang main ke rumah.

Karena Aku sudah besar dan adik-adikku masih kecil jadinya aku tidurnya sekamar dengan 2 mbak aku itu dan adik-adikku masih satu kamar dengan orang Tuaku. Aku sering di taruh di tengah waktu tidur karena emang aku masih kecil dan mereka berdua emang bongsor-bongsor jadi aku selalu di kalah-kalahin.

Suatu malam sewaktu tidur Aku agak kaget ketika aku merasakan Mr. P ku di raba-raba jantungku berdetak sangat kencang dan berkeringat karena aku emang belum pernah mengalaminya di pegang-pegang milikku oleh cewek apalagi ini mbak Aku sendiri rasanya nggak karuan, Aku takut melawan atau menghiyakan dan Aku cuma bisa membiarkan saja dan berlangsung kira-kira 30 menit dan Aku perhatikan mbak Aku nafasnya kelihatan nggak teratur dan terenggah-enggah sambil tangannya yang satu kelihatannya di masukkan dalam memeknya sendiri. Sambil pura-pura tidur aku cermati apa yang dia lakukan sambil dengan masih dengan hati yang berdebar-debar karena takut mau dan sebagainya pokoknya campur aduk. Semakin lama tangannya di masukkan ke dalam memeknya makin cepat dan dia bersuara ah…… ough… Aku juga tegangnya bukan main menyaksikan mbak aku itu dan masih juga memegang Mr. P Aku dia semakin agak meronta-meronta sambil tangannya yang satu di masukkan memeknya dan yang satu pegang senjataku dan Aku rasakan Mr. P ku mengeluarkan lendiran-lendiran yang aku nggak tahu kenapa.

Dan akhirnya mbak aku berdesis-desis dan ah… ough… dan mengerang kenikmatan dan akhirnya melepaskan senjataku dari gengamannya. Aku masih pura-pura tidur dan dia menghadap Aku ternyata dia menciumi Aku dan segera tidur. Itu merupakan malam yang paling berkesan di kehidupan Aku maka sampai sekarangpun Aku bisa menulis cerita ini dengan gamblang di Internet.

Malam berikutnya Aku sengaja tidur agak larut dan mbak Aku memanggil dari dalam kamar supaya lekas tidur karena besuk pagi harus bangun pagi dan sekolah. Akupun menurut dan segera ke kamar untuk tidur dan kira-kira udah hampir satu jam mulai lagi mbak aku memasukkan tangannya dari bawah celanaku dan mulai memegang-megang Mr. P sehingga senjataku menjadi tegang nggak karuan, dia agak kaget dan langsung tangannya membuat peringatan di mulutku untuk tidak bersuara dan Aku mengangguk setuju. Mbak aku meneruskan untuk memegang senjataku lebih kuat dan nggak hati-hati lagi karena Aku sudah tahu dan senjataku makin tegak berdiri dan dia membuka kan pakaiannya dan Aku disuruh mengulum punting susunya.

Aku menurut aja karena emang enak Aku rasakan dan kamipun melepaskan celana dalam kami berdua dengan kaki, lalu dengan agak gemetar aku berusaha memasukkan senjataku ke memeknya sambil miring nggak di atas tubuhnya karena ada mbak Aku yang satunya sedang tidur di sebelahku dan agak bersusah payah akhirnya Aku merasakan ada ke hangatan di pucuk senjataku yang aku rasakan, ternyata senjataku udah masuk sebagian ke dalam memeknya mbak aku.

Lalu mbak aku memberi isyarat untuk ke kamar mandi saja dan akupun menurut aja seperti kerbau di cocok dan akhirnya kami melakukannya di kamar mandi, aku tutup kamar mandi dan segera melucuti pakaian kami semua dan mulai saling mencumbu dengan masih agak kaku karena belum pernah melakukan akupun meniru apa yang dilakukan mbak aku dan aku sangat kaget dan nggak karuan ketika mbakku setengah berdiri dan memegang senjataku dan akhirnya mengulumnya.

Ough…aku nggak tahan di buatnya dan ah…dia memberi tanda untuk aku tidak berisik karena suaraku terlalu keras nanti bisa membangunkan seisi rumah kata mbak aku. Bener-bener aku nggak tahan ketika mbak aku mengulum senjataku keluar masuk dengan mulut yang panas seperti itu aduh… sampai aku remas-remas rambutnya dengan kuat ah… ough… aku hanya bisa menikmatinya dengan agak ada rasa ketakutan dan akhirnya aku keluar… ough… dan mbak aku mengarahkan tanganku ke dalam memeknya sambil disuruh menekan-nekan sambil mengulum puting susunya yang udah sangat tegang dan nggak lama diapun mengalami hal yang sama ahhhhhhhhhhhhhhhh ough… dan akhirnya klimak sampai tanganku kena cakarannya semua.

Malam itu kami belum melakukan hubungan intim di karenakan mbak aku kelihatannya masih perawan sehingga diapun takut untuk memasukkan senjataku ke dalam memeknya dan aku semakin memikirkan malam cepat datang karena aku mulai menikmati permainan yang belum pernah ada duannya ini
CerDeOfficial Facebook Cerita Dewasa

Gadis Cantik Pecinta Alam | Cerita Porno

Ya kali ini iDewasaBlog akan memberikan cerita porno yang berjudul Gadis Cantik Pecinta Alam. Berikut cerita porno yang saya maksudkan. Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg.


Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian dis***** Tadi malam aku bersama teman-temanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu *****

Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.

''Halo Mas?'' sapa salah satu cewek itu padaku.

Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang sinetron Bunga lestari.

''Halo juga'' jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.

''Loh, dari mana, kok berduaan aja?'' tanyaku coba berbasa-basi.

''Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar..'' jawab cewek itu sambil duduk di depanku.

''Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan sama orang'' lanjutnya kemudian.

Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orang-orang atau rombongan pecinta alam.

''Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin?'' jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

''Mas namanya siapa?'' tanya cewek yang berambut ********

''Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina'' katanya lagi.

''Namaku Son'' jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

''Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih..'' tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.

''Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih'' jawabku.

Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

''Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh?'' godaku pada Adek.

''Tolong deh Mas.. Adek capek banget" "Nanti gantian deh..'' rayu Adek padaku.

''Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya?'' godaku lebih lanjut.

''Maunya tuh.. tapi bereslah..'' jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ***** Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

''Emangnya ini di warung'' kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

''kamu sakit ya Lin?" tanyaku.

''Nggak Mas hanya kedinginan'' katanya pelan.

''Butuh kehangatan tuh Mas Son'' potong Adek sekenanya.

Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

''Masih pada kuat jalan nggak?'' tanyaku pada 2 orang cewek *****

''Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan'' lanjutku.

Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

''Duer!!''

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.

''Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang'' kataku sambil mematikan kompor parafinku.

''Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!'' perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ***** Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

''Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali'' saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.

''Tapi copot sepatunya'' lanjutku kemudian.

Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.

Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

''Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya'' ucapku pada Adek dan Lina.

''Mas Son gak kedinginan..'' tanya Lina tiba-tiba.

''Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini?'' jawabku apa adanya.

''Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil'' kataku mencoba bercanda.

''Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga'' kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

''Waduh, gak salah denger nih?'' pikirku.

Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

''Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat'' kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

''Badan Mas Son hangat ya Lin?'' kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.

''Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi'' jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

''Ehm..'' aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusia-siakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..

Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai meraba-raba kebagian daerah buah dada Adek.

''Ehm..'' Adek ternyata hanya berdehem pelan.

Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.

''Aah.. Mas Son'' suara Adek terdengar lirih.

''Ada apa Dek?'' tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.

''Kamu masih kedinginan ya?'' kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

''Ah.. Mas Son..'' katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.

''Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan'' kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

''Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss'' ucapku dalam hati.

Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

''Mas sakit Mas pundak Lina'' kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.

''Oh maaf Lin" jawabku dengan terkejut.

Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

''Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi'' kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusap-usap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

''Waduh.. bagaimana ini'' pikirku dalam hati.

Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.

Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

''Ah.. ah.. Mas Son..'' gumam Adek lirih.

''Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah.." lanjutnya.

Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

''Aaahh.. sshh..''

Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

''Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li..'' ujarku dengan nafas tersengal.

Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

''Aah..'' aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.

''Aargh .. Dek, enak sekali Dek" erangku.

''Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir'' gumamku dalam hati.

Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

''Lin, aku ingin cium bibir kamu'' bisikku perlahan di telinga Lina.

Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

''Eemh ..'' suara yang terdengar dari mulut Lina.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.

''Aah.. ah..'' Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.

''Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta'' kata Adek tiba-tiba.

Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

''Adek masukkin ya Mas'' kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

''Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek" katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.

''Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son" kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

''Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas" erang Adek memelas.

Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

''Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni..'' katanya bernafsu.

Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

''Eeemhp.. aaah..''

Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

''Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son'' kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan mengenai leherku.

''Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya'' kata Adek pelan.

Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

''Aah .. Mas Son..'' kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.

Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta diisap.

Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

''Aah .. Mas Son.. geli ..'' hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

''Aargh.. aah ..'' Lina mulai menggelinjang.

Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

''Ah.. Mas.. Son .. aah'' suara Lina semakin terdengar parau.

Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarang-jarang.

''Ah.. jangan Mas Son .. ah..'' kata Lina mendesis.

Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

''Aah .. argh ..'' desis Lina pelan.

Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

''Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah ..'' teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.

''Aaah.. Mas ..'' teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

''Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son..'' kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.

Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

''Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina" kata Adek tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.

''Eeemph .. emmph ..'' Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

''Aaah .. Mas Son ..'' desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

''Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok'' kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ***** Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

''Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah ..'' lanjutnya keenakan.

Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.

''Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah.." desis Adek histeris.

Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.

''Aaarg ..'' erangnya keras.

Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

''Crut.. crut..''

Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

''Aaah..'' akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

''Baunya seperti santan ya?'' komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.

''Ya udah. Semua dibereskan dulu'' kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku *****

''Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya'' lanjutku kemudian.

Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti *****
CerDeOfficial Facebook Cerita Porno